Kamis, 23 Februari 2012

KEMULAN TAKSU MANIFESTASI KECERDASAN MANUSIA

KEMULAN TAKSU
MANIFESTASI KECERDASAN MANUSIA


……ngarania Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen Bapanta, nga, Sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring Dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga …..

Artinya:

……namanya beliau Sang Atma, pada Kemulan kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada Kemulan kiri sebagai ibu namanya Siwatma, pada Kemulan tengah wujudnya adalah sang atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya Sanghyang Tunggal mempersatukan diri.

*************************************************************************

Secara umum orang Bali memandang sanggah Kemulan sebagai tempat pemujaan roh leluhur yang telah disucikan. Dari tiga ruang yang ada, ruang sebelah kiri merupakan sthana dari roh leluhur laki-laki. Ruang sebelah kanan merupakan sthana dari roh leluhur perempuan. Sedangkan ruang yang tengah merupakan sthana dari penyatuan bapak dan ibu dalam wujud anak.  Secara sekilas begitulah pemahaman secara umum yang ada dalam pola pikir orang Bali.

Saya mencoba mengulas sanggah kemulan dari sisi yang berbeda. Dan tulisan ini merupakan sudut pandang pribadi dan bukan sebuah kajian akademis. Jadi lebih bersifat memberi perluasan makna dari sanggah kemulan dalam konteks kekinian. Dan tulisan inipun tidak bermaksud merancukan apa yang telah berlangsung dan diyakini orang Bali pada umumnya, melainkan lebih membuka wawasan dan mencoba memberi warna berbeda.

Mengenai sanggah kemulan, ada disebutkan dalam beberapa lontar. Salah satunya adalah lontar Tutur Gong Besi yang bunyi dan artinya kurang lebih seperti tertera pada awal artikel ini. Penjelasan yang hampir sama disebutkan pada Lontar Usana Dewa sebagai berikut:

Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.

Artinya:
Pada kemulan nama Beliau adalah Sang Hyang Atma, di Kemulan sebelah kanan adalah linggih Paratma adalah Bapak. Di Kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah ada wujudnya Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud Sang Hyang Tuduh.

Apakah yang bisa dilihat dari gambaran ini?

Manusia adalah mahluk cerdas yang mempunyai kemampuan beradaptasi, belajar dan berpikir. Hal ini dimungkinkan karena sejak terlahir, setiap manusia telah dianugerahi empat macam type kecerdasan, yaitu:

1. Kecerdasan fisik (Physical Quotient – PQ)
Kecerdasan fisik (PQ) adalah kecerdasan alami yang dimiliki oleh tubuh. Kecerdasan ini mengendalikan otot tak sadar yang mengerakkan jantung, paru-paru, system pencernaan, sistim refleks dan lain-lain. Tanpa adanya perintah, tubuh menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf dan sistem-sistem vital lainnya. Seluruh proses itu berjalan di luar kesadaran dan berlangsung setiap saat dalam hidup. Ada kecerdasan yang mengendalikan semua itu. Yang terjadi secara otomatis berlangsung di luar kesadaran manusia. Kecerdasan ini saya menyebutnya Physical Quotient. Atau lebih mudah disebut insting atau naluri. Organ pengendalinya ada pada otak kecil.

Insting ini pada umumnya masih kuat pada anak-anak. Karena perkembangan otak mereka belum sempurna, keseharian anak-anak lebih banyak bergerak secara instingtif. Dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan “Kleteg Bayu”.

2. Kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient – IQ)
Kecerdasan intelektual atau biasa disebut IQ adalah kemampuan nalar/logika/rasional atau pikiran. Sering disebut kemampuan otak kiri. Kemampuan untuk mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan sebab akibat, berpikir abstrak, berbahasa, memvisualkan sesuatu.

Otak kiri bertanggung jawab untuk ”pekerjaan” verbal, kata-kata, bahasa, angka-angka, matematika, urut-urutan, logika, analisa dan penilaian dengan cara berpikir linier. Melatih dan membelajarkan otak kiri akan membangun kecerdasan intelektual (IQ). IQ adalah sisi rasional manusia. Kecerdasan ini bersifat maskulin. Dalam bahasa Bali disebut “Pepetekan” atau “Pepineh”.

3. Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient – EQ)
Kecerdasan emosional atau biasa disebut EQ adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan emosional memberi kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan menghormati perbedaan.
Anak-anak dominan dikendalikan insting

EQ sering dinyatakan sebagai kemampuan otak kanan. Dianggap lebih kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh. Otak kanan bertanggungjawab dan berkaitan dengan gambar, warna, musik, emosi, seni/artistik, imajinasi, kreativitas, dan intuitif. Kecerdasan ini bersifat feminin. Dalam bahasa Bali disebut “Pengerasa”.

Penggabungan pemikiran/logika (otak kiri) dan perasaan/emosi (otak kanan) akan menciptakan keseimbangan, penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu keberhasilan dalam berkomunkasi, relasi dan dalam kepemimpinan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (nalar).

Seseorang yang memiliki IQ tinggi namun memiliki kecerdasan emosional (EQ) rendah, tidak tahu bagaimana membangun hubungan dengan orang lain. Orang tersebut kemungkinan akan menutupi kekurangannya dengan bersandar pada kemampuan intelektualnya dan akan mengandalkan posisi formalnya.

4. Kecerdasan Spriritual (Spiritual Quotient – SQ)
Sebagaimana kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual juga merupakan arus utama dalam kajian dan diskusi filosofis dan psikologis. Kecerdasan spiritual atau SQ merupakan pusat dan paling mendasar diantara kecerdasan lainnya, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. SQ adalah intuisi dalam diri manusia. SQ mewakili kerinduan manusia akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas. SQ membantu manusia untuk mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani. SQ merupakan kecerdasan dalam melakukan koordinasi. Atau sering disebut kemampuan otak tengah atau otak depan. Kecerdasan Spiritual akan memberi inspirasi kepada manusia.

Dari penjabaran keempat kecerdasan tersebut, disandingkan dengan apa yang dimuat pada lontar Tutur Gong Wesi dan lontar Usana Dewa, ada benang merah antara konsep Kemulan Taksu yang dimiliki orang Bali dengan empat kecerdasan alami yang dimiliki manusia. Dari ulasan diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa konsep Sanggah Kemulan pemahamannya bisa disederhanakan menjadi:
  • Rong kiwa (kiri) merupakan pemujaan terhadap roh leluhur laki–laki, yang bisa diartikan sebagai pemujaan terhadap aspek maskulin. Aspek maskulin dalam diri manusia berupa kecerdasan intelektual atau IQ (laki-laki/maskulin = rasio /logika).
  • Rong tengen (kanan) merupakan pemujaan terhadap leluhur perempuan, yang bisa diartikan sebagai pemujaan terhadap aspek feminin. Aspek feminin dalam diri manusia berupa kecerdasan emosional atau EQ. (feminin/perempuan= perasaan/emosi).
  • Rong tengah merupakan pemujaan terhadap perpaduan dari bapak dan ibu atau Sang Hyang Atma dalam wujud anak. Anak menggambarkan aspek instingtif, karena sifat anak-anak yang lebih menggunakan sisi instingnya (persatuan bapak dan ibu = anak/insting).
PERWUJUDAN TAKSU DALAM DIRI 
Pelinggih Taksu bisa diterjemahkan sebagai sthana untuk kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan yang memberi kemampuan koordinasi atau aspek intuisi. Taksu (SQ) berada diluar sistem tubuh manusia. Taksu atau SQ akan muncul jika manusia mampu mengasah dan menggunakan ketiga kecerdasannya (IQ, EQ, PQ) secara maksimal dan berimbang. Orang Bali tidak pernah menyembah Taksu, melainkan hanya menyembah pada Kemulan. Karena hanya tiga kecerdasan saja yang berada di dalam sistem tubuh manusia. Jika tercapai kondisi seimbang dan muncul rasa iklas dalam menjalani kehidupan, maka Taksu atau SQ akan muncul.

Dalam keseharian, orang Bali pada umumnya menghaturkan persembahan di rong tengah. Kecuali pada hari-hari tertentu pada seluruh rong. Ini menunjukkan leluhur orang Bali sudah menyadari keberadaan sistem otomatis dalam diri manusia. Sebagaimana uraian sebelumnya, aspek instingtif berhubungan dengan sistem metabolisme tubuh fisik dengan seluruh jaringannya yang bekerja secara otomatis. Insting/refleks ini jugalah yang membuat mata seketika berkijap ketika ada kotoran masuk. Tangan menghentak saat tersengat panas sehingga terhindar dari terbakar. Keberadaan insting/refleks dalam kehidupan sehari-hari sangat nyata.  Dan orang Bali menghaturkan persembahan memohon agar insting dalam dirinya selalu bekerja secara maksimal, sehingga keselamatan fisik bisa terjaga.

Bagi orang Bali, Kemulan Taksu adalah pokok atau modal awal untuk melangkah. Demikian juga empat kecerdasan alami yang dimiliki manusia pun adalah sebuah pokok atau modal awal dalam mengarungi kehidupan. Sebagai mana halnya orang Bali yang tidak bisa lepas dari Sanggah Kemulan, setiap manusia pun tidak bisa lepas dari tiga kecerdasan dasar dalam dirinya yaitu IQ, EQ dan PQ yang jika digunakan secara maksimal akan memunculkan kecerdasan keempat yaitu SQ (Taksu).

SANGGAH KEMULAN SEBAGAI TEMPAT MEMUJA LELUHUR
DNA sebagai penyimpan informasi

Ilmu pengetahuan modern telah berhasil mengungkap keberadaan DNA dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai penyimpan dan penyedia informasi. Seluruh informasi yang ada dalam DNA, baik itu keahlian, pemahaman, pengalaman, pengetahuan dan lain-lain adalah sebuah garis informasi yang berkesinambungan dan diteruskan secara turun temurun. Informasi yang ada pada DNA seorang kakek dan nenek (yang tentunya juga berasal dari pendahulunya) akan diturunkan kepada seorang ayah dan ibu. Ketika seorang ayah dan seorang ibu menikah, yang dalam DNA-nya membawa informasi dari pendahulunya, akan menurunkan informasi itu kepada sang anak dalam bentuk DNA. Sehingga dalam DNA sang anak ada segudang informasi berupa pengalaman, pemahaman, kemampuan, keahlian dari beribu-ribu orang dalam garis DNA. Informasi dari DNA inilah yang kemudian mewujud menjadi tiga kecerdasan dasar yaitu logika (IQ), emosional (EQ) dan insting (PQ) – Dalam bahasa Bali : Pepineh, Pengerasa, Kleteg Bayu – Tugas sang anak adalah menggali seluruh potensi ini dalam dirinya agar dapat dipergunakan secara maksimal. Jika sebuah informasi muncul lebih dominan, maka seseorang dikatakan memiliki bakat tertentu. Seluruh informasi dalam DNA tersimpan di alam bawah sadar. Dan semua itu merupakan warisan dari leluhur. Memuja pada Kemulan adalah memuja ketiga kecerdasan dasar yang merupakan manifestasi dari informasi yang diwariskan oleh leluhur kita, sehingga pemahaman konsep ini tidak menyimpang dari konsep pemujaan terhadap leluhur.

Satu hal yang patut bangga sebagai orang Bali adalah leluhur orang Bali sudah memahami semua itu dalam konteks cara mereka berpikir pada jamannya. Bahkan lalu mewujudkannya dalam bentuk sanggah Kemulan Taksu dan terus mewariskannya secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dan orang Bali yang hidup pada masa sekarang seyogyanya bisa memahami ajaran-ajaran warisan para leluhurnya dalam kerangka berpikir dijaman dimana dia berada. (GS)

Tulisan ini pernah dimuat pada tabloid Kharisma Madani edisi Januari 2011
 

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Alangkah berbudinya anda, jika sedikit meninggalkan pesan untuk saya...