Rabu, 17 Agustus 2011

Zunnun Al-Misri

Zunnun Al-Misri (Mesir, 165-264 H)


Salah satu tokoh sufi yang terkenal dengan ilmu ma’rifatnya adalah, Zunnun Al-Misri, beliau berasal dari Akhtaman salah satu kota di daerah pedalaman Mesir, beliau dimakamkan di Pemakaman asy-Syafi’i, dan beliau bernama lengkap Abu al-Fayd Sauban bin Ibrahim al-Misri., ayahnya seorang Nubian (sebutan bagi penduduk Nubiah, dan termasuk keturunan pembesar Quraisy), beliau memiliki banyak saudara, dan salah satunya adalah Zu al-Kifli yang banyak memberikan keterangan tentang hal-ikhwal saudaranya.

Beliau adalah merupakan tokoh sufi pertama yang menonjolkan tentang teori Ma’rifat. Padahal Paham tentang Ma’rifat sudah banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh sufi sebelum Al-Misri, tapi yang paling menekankan konsep Ma’rifat pada ajaran tasawuf adalah Zunnun Al-Misri, ya habibullah.

Zunnun ber mutawatta’ dan mempelajari disiplin ilmu fiqh kepada Malik Ibn Anas, dan di bidang spritual beliau belajar pada Israfil Al-Maghribi.

Zunnun pernah mengatakan :
“aku menempuh perjalanan 3 kali dan mendapatkan 3 ilmu. Pada perjalanan pertama aku dapatkan ilmu yang bisa diterima kalangan awam dan khass, pada perjalanan kedua aku dapatkan ilmu yang hanya bisa diterima kalangan khass, dan pada perjalanan yang ketiga aku dapatkan ilmu yang tidak bisa diterima oleh kalangan awam maupun khass. Maka tinggalah aku hampa papa seorang diri”.

Maka dari pernyataan diatas itu Zunnun pun membagi tingkatan Ma’rifat dalam tiga tingkatan, yaitu : yang pertama adalah tingkat awam, dan yang kedua adalah tingkat ulama dan yang ketiga adalah tingkat sufi, seperti yang sudah diuraikan dalam Jalan Menuju Ma’rifat dan Hakekat.

Menurut Zunnun Al-Misri, Ma’rifat atau mengenal Allah swt yang sesungguhnya adalah ma’rifat lewat hati sanubari, karena pada tingkatan syahadat dan logika itu sebenarnya bukanlah termasuk Ma’rifat, tetapi itu hanya dapat digolongkan kedalam kategori ilmu saja.

“Memikirkan zat Allah adalah kebodohan, mengisyaratkan sesuatu kepadaNya adalah kesyirikan, dan hakikat makrifat adalah kebingungan”

Pada suatu kesempatan beliau pernah ditanya tentang bagaimana memperoleh makrifat itu, beliau berkata : ”araftu rabbi bi rabbi” yang artinya aku mengenal Tuhanku karena Tuhan. Karena mengenal Allah SWT tidak akan bisa dengan logika dan penalaran akal, melainkan dengan hati sanubari yang bersih dan selalu diisi dengan asma agung Allah SWT, yaitu dzikrullah. Dzikir yang dilakukan secara terus menerus.

Beliau mengatakan bahwa akhlak seorang Arif billah adalah Allah, dan orang yang arif selalu akan bersifat seperti sifat-sifat Tuhan dan selalu menjaga perilakunya agar tidak terjebak dalam kenistaan dunia yang menghanyutkan dan menghinakan orang yang dekat kepada Allah.

Selain konsep ma’rifat beliau juga mengungkapkan pengalamannya tentang khauf (rasa takut kepada Allah). Menurutnya, jika kebenaran telah meliputi diri seseorang maka kebenaran akan rasa takut kepada Allah akan meliputi dirinya. Karena “takut itu penjaga amal dan harap itu adalah penolong bencana”

Beliau juga adalah seorang tokoh yang penuh dengan mahabbah terhadap Tuhan, itu tampak dari perkataan beliau “aku memanggilMu, di hadapan orang lain dengan Ilahi (wahai Tuhan), tetapi manakala aku sendirian aku memanggilMu dengan panggilan Ya Habibi(Wahai Kekasihku)”.

Zunnun pernah mengatakan, bahwa Neraka bukanlah sesuatu hal yang harus ditakuti, yang lebih ditakuti adalah ketika berpisah dari Kekasih Sejati. Ketakutannya tak lebih dari setetes air yang dibuang ke samudera cinta Allah.

Kemudian ketika ditanya tentang apa itu mahabbah, beliau menjawab : “Mahabbah ialah mencintai apa yang dicintai Allah, membenci apa yang dibenci Allah, mengerjakan secara paripurna apa yang diperintahkan, dan meninggalkan segala sesuatu yang akan membuat kita jauh dari Allah, tidak takut pada apapun selain dari Allah, dan bersifat lembut terhadap saudara dan bersifat keras terhadap musuh-musuh Allah, dan mengikuti jejak Rasulullah dalam segala hal”

Zunnun meninggal pada tahun 425 H. konon, tatkala orang mengusung jenazahnya, muncullah sekawanan burung hijau yang memayungi jenazahnya dan seluruh pengiring jenazah dengan sayap-sayap hijau burung tersebut. Dan pada hari kedua, orang-orang menemukan tulisan pada nisan makam beliau, “Zunnun adalah kekasih Allah, diwafatkan karena Rindu” dan setiap kali orang akan menghapus tulisan itu, maka muncul kembali seperti sedia kala.

Allah tidak akan pernah memuliakan seorang hamba dengan kemuliaan yang lebih mulia daripada ketika dia menghinakannya atas kehinaan dirinya. Dan Allah tidak menghinakan seorang hamba dengan kehinaan yang lebih hina daripada ketika dia menutupi dengan kehinaan dirinya. Karena Hijab yang paling samar dan paling kuat adalah melihat diri sendiri.

*dari berbagai sumber

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Alangkah berbudinya anda, jika sedikit meninggalkan pesan untuk saya...