Thursday, 15 September 2011

Al-Qur'an untuk siapa?

Mungkin pertanyaan yang terlintas ini terdengar aneh dan sangat menggelikan,'Al-Qur'an untuk siapa?" tentu saja kita yang bernalar sehat menerima bahwa Al-Qur'an adalah untuk semesta raya, tentu yang kukatakan ini, bahwa Al-Qur'an untuk semesta raya adalah dari segi universalitasnya, sedang sebagai penunjuk jalan tentunya Al-Qur'an ini adalah untuk diri kita, bukan untuk yang lain diluar daripada diri kita. Maksudku setiap pelajaran hidup, kebaikan dan apapun yang diungkapkan oleh Qur'an yang mulia itu ditunjukan kepada diri kita, bukan untuk menuduh ataupun mengkafirkan yang lain, karena tentu saja Allah-lah mutlak yang mengetahui kekafiran dalam hati setiap insan. Semoga Allah menerangi hati kita dengan cahaya petunjukNya. Amin. Lalu jika kita membenarkan bahwa Al-Qur'an yang mulia itu adalah sebagai penunjuk jalan bagi diri pribadi kita kemudian kita telah benar-benar menerima hal tersebut dan menjalankan hal yang kita ketahui tersebut, yaitu menjadikan Al-Qur'an sebagai alat koreksi bagi diri kita sendiri?. Hal inilah yang perlu untuk kita kaji lebih dalam, bukan hanya sebatas kata yang terdengar dari lidah saja, tetapi hati dan pikiran kita harus benar-benar mampu menerima koreksi yang dituturkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an atas keadaan diri kita, bukan keadaan yang lain tentu saja, tetapi sekali lagi keadaan diri kita. Baiklah semoga ini bisa menjadi jalan kemanfaatan bagi siapapun yang membacanya dan semoga Allah yang Dialah Cahaya Langit dan Bumi menerangi hati kita dengan cahaya petunjukNya. Amin Yaa Rabbal Alamin.

Tidak kujelaskan setiap arti dalam ayat Al-Qur'an pada catatanku ini, aku bukanlah seorang ahli dalam bahasa arab pun tak pernah belajar sastra arab yang konon indah itu. Pada catatanku ini kuakui dan kuterima dengan hati ikhlas dan lapang bahwa Al-Qur'an adalah untuk segala zaman, masa, bangsa, keadaan, cara hidup, bahasa dan segala pemaknaan yang tidak keluar dari hal-hal yang baik dan dimaksudkan oleh Al-Qur'an itu sendiri. Maka siapapun orangnya tidak bisa dihakimi bahwa ianya berada pada posisi yang keliru dalam memahami Al-Qur'an, tentu saja jika caranya memahami tidak keluar dari jalan yang baik dan cara memahaminya dapat memberikan buah yaaang baik bagi dirinya. Kucatatkan catatanku ini bagi diriku, biarlah Allah yang Maha Agung yang menjadi hakim yang adil bagi diriku.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Alangkah berbudinya anda, jika sedikit meninggalkan pesan untuk saya...