Tuesday, 17 January 2012

Golekono Tapake Kuntul Mlayang.

'Golekono tapake kuntul mlayang'.


Apa yang hendak disampaikan oleh sang filosof atau sebutlah seorang guru spiritual, ketika kali pertama ia mengatakan hal tersebut?


Mungkin ini klasik, tapi tentu saja akan selalu sudut pandang yang baru untuk menyikapi Filosofi ini.


Sebelum ini, karena hasrat kuat kita dalam perjalanan pencarian jati diri, selalu menginginkan hal-hal besar sebagai pencapaian perjalanan spiritual. Sangat jarang kita perhatikan detail-detail yang mengekor pada satu pokok persoalan. Mungkin bisa dibenarkan jika sikap seperti yang saya sebutkan adalah suatu bentuk pendewasaan diri untuk lebih 'open minded' ketika menyikapi suatu 'sanepan' atau kata-kata filosofis yang memiliki makna dalam yang tidak bisa dinilai sepihak sebatas kata-kata yang tertuang pada ungkapan filosofis tersebut. Kita harus mampu untuk keluar dari fokus yang terbatas dan berdiri pada sudut pandang yang lebih luas untuk menyimpulkan satu hal yang mendalam.


Kembali pada ungkapan filosofis tersebut,

wajar jika sebelum masuk kedalam kata-kata sanepan tersebut kita melihat bahwa pada awalnya ada dua pihak yang terlibat langsung dalam pembicaraan yang terjadi sehingga muncul satu pernyataan filosofis dari orang yang memiliki pencapaian spiritual yang lebih tinggi dan satu pihak lain adalah salik atau pencari jati diri.


Dari segi psikologis pihak yang menyatakaan ungkapan folosofis tersebut, tentu dapat diterima bahwa ia telah memiliki kebijaksanaan, senantiasa waspada, berhati hati dan teliti dengan pernyataan yang akan ia buat. Karena kita tahu si salik belum tentu dapat menerima pernyataan daripada pihak pertama jika ia mengungkapkan apa yang difahaminya dengan ketergesaan.


Maka Pihak pertama yang bisa kita sebut sebagai mursyid tentulah memahami pola pikir daripada si salik, mursyid haruslah menyelami alam pikiran salik, mengikuti arus berpikirnya lalu merangkul si salik untuk dapat memahami pikirannya, sehingga apapun yang timbul dalam pemikiran salik adalah bentuk dari penyimpulan pemikiran sisalik itu sendiri yang telah diarahkan oleh mursyid dengan cara mursyid itu sendiri, yang menjadikan si mursyid tidak terkena dampak fitnah jika sisalik tetap tak mampu menerima kenyataan yang telah diungkapkan oleh  mursyid melalui filosofi yang dibuatnya.


Kemudian Mursyid menemukan sesuatu yang bisa diterima oleh tingkat pemikiran sisalik, bahwa pastilah seekor burung kuntul yang berjalan diatas tanah lumpur akan meninggalkan jejak-jejak kaki ditanah untuk dapat dikenali oleh orang yang melihat jejak kaki tersebut,


Dari hal tersebut maka Sang Mursyid menciptakan suatu ide bahwa pastilah juga, ada jejak kaki diatas langit sana yang tertinggal ketika burung kuntul terbang melintas disana.


Sang Mursyid memanfaatkan daya imaginasi sisalik untuk menunjukkan pada sisalik perihal sesuati yang menjadi pertanyaan besar dalam diri salik.


Sekalipun pada kenyataannya, kedewasaan berpikir kita tentu harus bisa menerima, bahwa tak akan pernah ada jejak yang tertinggal pada media berupa langit, tidak pernah ada jejak disana.


Ungkapan filosofis sang mursyid, adalah suatu analogi untuk mempermudah menjawab apa yang menjadi pertanyaan sisalik, bahwa apa yang ditanyakannya seperti halnya telapak kaki burung kuntul yang berada dilangit hanyalah sebuah ide yang menciptakan seakan akan hal tersebut ada, sekalipun pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah ada, 'IDENYA BAHWA SEAKAN-AKAN IMAJINASI TENTANG TELAPAK KAKI TERSEBUT BENAR-BENAR ADA, SEKALIPUN PADA KENYATAANNYA IA TIDAKLAH ADA'.


Published with Blogger-droid v2.0.3

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Alangkah berbudinya anda, jika sedikit meninggalkan pesan untuk saya...